Kasih Karunia

By Pascal Lesmana

Di dunia komersial ini, manusia telah menjadi terlalu akrab dengan kata-kata "tukar" dan "balasan jasa" . Manusia memiliki konsep "mengambil dan memberi" . Dengan kata lain, kita mengatakan pada diri kita "Saya akan memberi… apabila saya dapat mengambil sesuatu dari hal tersebut" . Kita dapat melihat pemikiran ini di keluarga, tempat kerja, politik, dan bahkan lingkungan keagamaan. Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan "balasan jasa" dan melakukan "penukaran" .

Selama puluhan tahun, manusia mencoba untuk menerapkan konsep yang sama untuk menggapai Tuhan dan "mendapatlan" kesehatan, kekayaan dan keselamatan dengan "berbuat baik" . Tapi fakta membuktikan bahwa manusia terus menjadi lebih jahat dan tidak ada perbuatan baik maupun pengorbanan yang cukup untuk menutupi dosa manusia. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23), dan Tuhan melihat ciptaan-Nya menuju kehancuran. Hal ini yang membuat Tuhan melakukan tindakan yang melampaui pemikiran dan tindakan manusia untuk menyelamatkan ciptaan-Nya yang termulia.

Tuhan memperkenalkan kata "kasih karunia" kepada manusia, serta menawarkan keselamatan melalui konsep yang orang Kristen yakini sebagai "hanya percaya dan mengakui" (Roma 10:9). "Keselamatan" , "berkat" serta "kesehatan" adalah pemberian oleh "kasih karunia" bagi mereka yang percaya dan mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Dia mati disalib, bangkit dari kematian dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan mempersiapkan rumah untuk kita di surga.

Walaupun "kasih karunia" adalah "pemberian cuma-cuma" , tidak seharusnya kita mempergunakannya sebagai alat untuk kita terus melakukan dosa. Kita harus memperlakukan "kasih karunia" dengan penuh hormat, dengan mengetahui bahwa harga yang telah dibayar untuk dosa-dosa kita tidak dapat dibayarkan kembali (priceless).

Konsep "kasih karunia" telah diputarbalikkan oleh si jahat dan telah mengelabui begitu banyak orang percaya, sehingga masih banyak orang percaya yang masih hidup di bawah hukum keagamawian, kultur maupun sistim dunia ini.

Orang-orang percaya mencoba "membeli" tiket ke surga dengan menempatkan diri mereka sebagai orang yang "benar" dalam tindakan keagamawian mereka. Mereka berpikir bahwa dengan demikian mereka lebih superior dan lebih berkuasa, dan pastinya lebih "kudus" dari yang lainnya. Mereka membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang hidup di bawah level "kerohanian" mereka, tanpa menyadari mereka diselamatkan oleh "kasih karunia" .

Mari kita menjadi orang-orang yang memiliki sikap "kasih karunia" , berjalan, berbicara dan bertindak sesuai dengan "kasih karunia" .

Ketika Yesus memberikan dua perintah di Matius 22:37-40, Dia berkata bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan pikiran kita karena bukan karena apa yang kita lakukan yang membuat kita selamat. Itu sebabnya ketika kita menghargai keselamatan atas jiwa kita sendiri yang kita kasihi, kita harus mengasihi orang lain juga dan memperkenalkan mereka kepada "kasih karunia" Tuhan yang telah menyelamatkan kita.

Kekristenan bukanlah tentang melakuakn hal yang "benar" , melainkan mempercayai hal yang benar.

Jika Anda percaya akan "kasih karunia" , maka Anda akan menemukan jawaban bagi kehidupan Anda.

Pascal Lesmana melayani sebagai seorang pemimpin DATE (kelompok sel) JPCC.