GRATITUDE - A Taste of Being Thankful

By Ian Hendarto

Happy birthday to all JPCC partners!

Tidak terasa JPCC sudah melangkahkan kaki selama 10 tahun. Banyak peristiwa menyenangkan dan ada pula hal-hal yang tidak begitu menyenangkan selama sepuluh tahun ini. Namun kita patut merasa bersyukur atas semua itu, karena selama 10 tahun ini JPCC tumbuh dan bersinar menjadi terang bagi bangsa Indonesia, dan bangsa-bangsa di dunia.

Tepat di bulan ulang tahun JPCC ini kita belajar mengenai GRATITUDE, yaitu rasa berterimakasih atau ungkapan rasa syukur kita atas apa yang telah kita terima.

GRATITUDE merupakan sikap hati kita kepada Tuhan. Mengungkapkan rasa syukur adalah sebuah keputusan. Dalam hidup ini, kita mempunyai kebiasaan bahwa berterimakasih atau bersyukur hanya dilakukan jika menerima sesuatu atau mengalami suatu kejadian yang menguntungkan, sehingga tanpa disadari kita hanya memperhatikan apa yang tidak kita miliki, apa yang kurang dalam diri kita.

Hal itu menyebabkan kita sebagai manusia seringkali tidak dapat bersyukur. Tuhan tidak memberikan kita hati dan mulut untuk mengeluh, karena sikap yang demikian tidak akan mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Jika kita mengeluh karena kita tidak memiliki sepasang sepatu yang baik, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kaki? “Mengucap syukurlah dalam segala keadaan, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18). Berhentilah melihat apa yang tidak kita miliki atau hanya fokus pada setiap permasalahan yang terjadi. Mulailah buka gerbang hati kita untuk bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan dalam hidup ini.

GRATITUDE merupakan benih yang baik untuk ditabur. Rasa bersyukur dapat diibaratkan sebagai benih yang harus kita tanam di setiap keadaan dalam hidup kita. Bayangkan kalau petani berhenti menanam karena hasil tanamnya gagal, maka di musim berikutnya ia tidak akan menerima hasil panen. Begitu pula dalam kehidupan kita, hal-hal seperti kebangkrutan atau penipuan dalam bisnis, ketidaksepahaman antara orangtua & anak, tantangan dalam pernikahan, hubungan yang selalu gagal, jabatan yang tak kunjung dipromosi, penyakit yang belum disembuhkan, dsb., mungkin saja terjadi. Namun jangan kita biarkan keadaan-keadaan di atas membuat kita lupa untuk tetap memilih untuk menanam “benih” ucapan syukur. Jangan menunggu terlalu lama untuk melakukannya, karena jika saatnya telah lewat, maka benih itu takkan dapat ditanam kembali, bahkan akan menjadi rusak.

GRATITUDE mengubah masalah dan kegagalan menjadi suatu kebaikan dan keberhasilan. Banyak orang yang tidak dapat bangkit dari setiap permasalahannya, hanya karena tidak mengucap syukur atas hidupnya. Bercerminlah setiap hari dan mengucap syukur atas diri kita, pikirkan semua kebaikan Tuhan yang selama ini, dan mulai perkatakan janji-janji Tuhan atas diri kita. “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mazmur 106:1). Orang yang hidupnya penuh dengan ucapan syukur adalah orang yang memberikan nilai yang tinggi atas apa yang ada di tangannya. Ia akan mengerjakan dengan baik semua miliknya itu, sehingga dapat mengubah suatu masalah menjadi kebaikan, dan setiap kegagalan menjadi keberhasilan (In-gratitude = lack of proper appreciation).

GRATITUDE merupakan kunci untuk membuka pintu-pintu kemurahan Tuhan. Dalam cerita Ayub, kita tahu bahwa Tuhan mengijinkan kehancuran terjadi dalam hidupnya. Kita tahu pula bahwa sejak awal Ayub tidak pernah sekalipun mengeluh kepada Tuhan. Sikap hati Ayub yang senantiasa bersyukur menjadi kunci kemurahan Tuhan dinyatakan kepadanya, dan Tuhan memberikan ganti sebagai miliknya sebanyak dua kali lipat. Mungkin saat ini kita sedang bergumul secara finansial, sedang diperlakukan dengan tidak adil, kita ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau sepertinya kita sedang kehilangan semua yang kita miliki, kelihatannya banyak sekali alasan yang mendukung kita untuk marah dan tawar hati; seperti istri Ayub yang menghendaki Ayub mengutuki Tuhan. Namun percayalah bahwa kemurahan Tuhan selalu ada, dan Ia akan membela umat-Nya yang datang dengan ucapan syukur serta memberikan ganti berlipat-lipat kali.

Apakah kita mau mengambil keputusan untuk bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidup kita? Apakah kita mau bersyukur atas bisnis dan pekerjaan yang dipercayakan atas kita? Atas pernikahan yang kita jalani, serta suami atau istri dan anak-anak yang kita miliki? Sebagai orangtua mengucap syukur atas anak dan sebaliknya, juga dengan kesehatan, harta dan materi yang kita miliki? Memiliki hati yang penuh dengan syukur adalah hal yang paling mendasar dalam kita menjalani setiap langkah kehidupan.

Sebagai gereja/partner JPCC, mari kita senantiasa bersyukur untuk apa yang telah Tuhan ijinkan terjadi selama 10 tahun ini, sehingga JPCC boleh ada sebagaimana ia ada saat ini.

Bersyukurlah karena kita mempunyai pemimpin yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, dan membawa kita naik bukan turun. Bersyukurlah untuk semua fasilitas yang kita miliki, daripada hanya mengeluh. Bersyukurlah karena ada orang-orang yang sejak awal berani membayar harga untuk memulai gereja ini. Bersyukurlah karena begitu banyak volunteers yang melayani kita semua dengan setia dan tanpa pamrih. Bersyukurlah untuk segala sesuatu yang ada di JPCC. Bersyukurlah untuk pertumbuhan yang Tuhan berikan.

BERSYUKURLAH!

Oleh Ian Hendarto (DATE Leader TA 5)